Thursday, January 31, 2019

Pengalaman Pertama Mengajak Balita ke Dokter Gigi


Usia berapa idealnya anak diajak berkunjung ke dokter gigi? Menurut artikel-artikel yang saya baca di internet, sebagai emak milenial yang hampir sebagian informasi didapat dari internet, ketika gigi anak pertama kali tumbuh, berarti sudah saatnya untuk berkunjung ke dokter gigi.

Kita nggak perlu menunggu gigi susu tumbuh lengkap, baru ke dokter gigi. Apalagi menunggu saat ada masalah pada gigi susu, seperti lubang gigi, karies atau gigis, dan masalah gigi lainnya yang membuat anak merasa nggak nyaman.

Namun, terkadang mengajak anak berkunjung ke dokter gigi itu susah-susah gampang. Membayangkan peralatan dokter gigi plus bunyi bor saja sudah membuat suasana bathin jadi horor.

Sedikit cerita pengalaman pribadi saya waktu SD, ketika ada petugas puskesmas yang datang inspeksi mendadak ke sekolah untuk memeriksa gigi, saya terjaring "razia" karena gigi saya ada yang berlubang. Semua anak yang giginya bermasalah, dijadwalkan datang ke puskesmas besok harinya. Saya, teman-teman dan didampingi seorang guru berangkat ke puskesmas pada hari yang telah dijadwalkan.

Sesampainya di sana, kami dipanggil sesuai urutan nama. Satu persatu teman selesai dilakukan tindakan pada gigi mereka. Tibalah giliran saya dipanggil dan dilakukan tindakan pada gigi saya. Apa yang terjadi di ruang periksa? Saya nangis kejer, sodarah sodarah.

Jangankan untuk duduk anteng di kursi periksa, membuka mulut saja saya enggak mau. Saya tetap menangis. Bahkan, dokter dan perawat pun sudah mencoba membujuk saya tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya dokter men skip giliran saya karena saya nggak berhenti nangis. *duuh, maafkan saya yang dulu ya, dokter*

Ok, kembali ke cerita balita ke dokter gigi.

Sebenarnya sudah lama saya ingin mengajak Zi ke dokter gigi karena gigi seri atasnya yang sudah menunjukkan ciri - ciri gigis. Tapi sayanya yang mikir maju mundur tanpa cantik *apasih* untuk mengajaknya ke dokter gigi.

Kenapa? Karena saya harus menguatkan mental mendampingi Zi untuk ke dokter gigi. Saya parno duluan kalau ingat bunyi bor dokter gigi. Sekalian sounding ke anak dan juga diri sendiri melalui buku cerita tentang dokter gigi dan kegiatan di ruang periksa.

Setelah beberapa minggu, saya dan Zi pergi ke klinik Petanu Medical Center. Mengapa memilih klinik tersebut? Ya, karena klinik tersebut merupakan Faskes tingkat 1 kami sekeluarga selaku pasien pemakai BPJS. Kalau ada pengobatan dan perawatan gratis, ngapain pilih yang berbayar? *emak emak mode on*.

Sebenarnya BPJS ini gak gratis juga, kan? Ada biaya yang harus kita bayar per bulannya sesuai kelas yang kita ambil. Walaupun nggak gratis, tapi lumayan juga kan kalau treatment gigi ke dokter dengan biaya pribadi? wkwk

Setelah melakukan pendaftaran dan mendapat nomor antrian, akhirnya tibalah giliran Zi diperiksa. Sesungguhnya saya yang deg-degan, khawatir kalau Zi bakal nangis atau ketakutan saat diperiksa dokter. Siapa tahu dia mewarisi sifat saya yang takut ke dokter. Saya yang kempang kempis nahan napas menemaninya.

Begitu masuk ruangan, dokter kenalan dulu dengan menanyakan nama, tinggal dimana. Mungkin ini merupakan cara untuk menyambut pasien anak agar tidak tegang atau takut bertemu dokter, lalu menanyakan keluhannya. Saya bilang ingin memeriksa gigi seri bagian atas Zi yang sudah mulai terkikis dan keluhan ngilu di gigi.



"Tante boleh lihat giginya?" Begitu dokter muda itu menyapa.

"Boleh", kata si bayik 4 tahun, sambil mengangguk

"Yuk, naik ke kursi periksa, yuk", kata dokternya

Zi pun langsung melenggang ke kursi periksa dengan semangat. Dia excited banget dengan kursi astronot itu. Kursi periksanya bisa dinaikkan dan diturunkan, lho. Benar-benar sesuai dengan ilustrasi di buku yang sering kami baca di rumah.

Setelah dicek, gigi seri Zi memang mengalami gigis dan harus di tambal. Setelah mengatur posisi kursi dan lampu yang pas, dokter pun meminta Zi tersenyum lebar agar proses penambalan bisa dilakukan.


Saya makin deg-degan ketika dokter dan perawat sudah siap beraksi dengan bor dan alat kecil yang ujungnya runcing. Pikiran saya dihantui hal negatif, bagaimana kalau nanti rasa excitednya tetiba berganti dengan rasa takut? Bagaimana kalau nanti anaknya nangis kejer saat alat-alat itu masuk ke mulutnya, bagaimana kalau ia berontak saat dilakukan penambalan?

Mulut saya komat-kamit berdo’a agar tambal gigi berjalan lancar.

Ternyata apa yang terjadi? Dia tampak kooperatif tanpa pemberontakan, tanpa tangisan dan rengekan walau kelihatan sedikit worry

Setelah 20 menit, gigi seri atas selesai ditambal.

Dokternya sempat bilang ke saya, 

"Jarang jarang lho, Bu, anak kecil bisa diam anteng di kursi periksa kaya begini. Biasanya mereka nangis, atau takut kemudian dipangku sama ibunya duduk di kursi periksa. Adeknya berani ya".

Anaknya tersenyum bangga. Dia senang banget, semua orang dipamerin gigi barunya.

Yeay, mission accomplished!

Pengalaman pertama ke dokter gigi balita umur 4 tahun sukses tanpa drama, tanpa trauma. Alhamdulillah. Ternyata, Mak nya aja yang parno, anaknya mah selow wae.

Jika ibu-ibu ingin atau berencana untuk memeriksakan putra/putrinya ke dokter gigi, mungkin beberapa tips ini bisa membantu.


Tips Agar Si Kecil Tidak takut dan Tidak Trauma ke Dokter Gigi, saat kunjungan Pertama kali ke Dokter








EmoticonEmoticon