Monday, January 28, 2019

Punya Anak Generasi Alpha, ini 6 Hal yang Harus Diperhatikan Orang Tua dalam Mendidiknya

Mendidik Generasi Alpha
Mendidik Generasi Alpha


Selamat datang, wahai generasi Alpha!

Generasi Alpha adalah sebutan bagi anak-anak yang lahir dari tahun 2011-2025. Anak-anak yang lahir dari orang tua generasi Y (lahir pada tahun 1977-1997) atau  Generasi Z (lahir pada tahun 1998-2010). 

Salah satu ciri khas generasi Alpha ini adalah mereka terlahir sebagai makhluk digital native, yaitu anak-anak yang melek digital sejak usia dini. Mereka terpapar oleh teknologi secara terus menerus sejak usia yang masih sangat belia. Gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan gadget yang tak lepas dari genggaman, dan mereka mampu mengoperasikan gadget hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. 

Lihat saja, betapa akrab dan mudah kenalnya mereka dengan gadget! Lihat saja, betapa piawainya telunjuk mungil mereka menyapu dan menggeser layar touchscreen smartphone!

Membesarkan anak-anak generasi Alpha di tengah perkembangan era digital yang semakin pesat tentu dibutuhkan cara khusus. Mereka merupakan generasi melek digital yang diklaim lebih pintar dan cerdas dalam hal akademik. Namun, sayang anak-anak generasi alpha diprediksi cenderung merasa kesepian karena jumlah saudara kandung yang sedikit, lebih sering berinteraksi dengan gadget daripada dengan orang tua.  Anak-anak ini cenderung cuek, kurang bersosialisasi bahkan bisa mengarah ke antisosial.

Ada tantangan tersendiri yang dihadapi Millennial Parents dalam membesarkan dan mendidik generasi Alpha. 

Simak yuk, beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam mendidik generasi Alpha.

1. Bekali Anak dengan Pendidikan Agama.


Pendidikan agama merupakan benteng pertahanan diri dari arus globalisasi dan modernisasi yang berkembang pesat. Orang tua perlu menanamkan nilai-nilai agama pada anak bahkan sejak anak masih kecil. Agar kelak, agama menjadi pondasi kuat dalam kehidupannya.

2. Libatkan Anak pada Aktivitas Sosial

Kemampuan sosial anak tetap harus dioptimalkan meski terlahir sebagai anak tunggal atau memiliki saudara kandung yang sedikit. Orang tua bisa mengajak anak bertemu orang lain dalam konteks sosial. Contohnya, ikut serta dalam kegiatan play date, kegiatan sekolah, mengajak anak ke acara keluarga, dan kegiatan sosial lainnya agar ia terbiasa dengan kehidupan sosial. Sembari melibatkan anak dalam aktivitas sosial, orang tua juga bisa menyelipkan nilai-nilai  sopan santun dan kekeluargaan.

3. Latih Kemandirian dan Daya Juang Anak


Orang tua dapat membiasakan beberapa hal pada anak untuk meningkatkan kemandirian dan daya juangnya. Melatih anak untuk hidup mandiri seperti: makan sendiri, memakai pakaian sendiri, membereskan mainan, membantu menyiram tanaman, membereskan kamar, menata meja makan, dan lain-lain. Karena anak generasi Alpha diprediksi memiliki daya juang yang rendah, maka orang tua perlu membekalinya dengan latihan kemandirian sejak dini. 

4. Perbanyak Komunikasi Verbal


Sejak bayi, orang tua harus rajin mengajak anak ngobrol, membacakan cerita, dan  membawa anak berjalan-jalan di alam sambil mengenalkan berbagai benda dan sifatnya. Dengan begitu, anak akan memiliki pembedaharaan kata yang banyak sehingga memudahkan mereka nantinya ketika harus belajar membaca dan menulis. Dalam berkomunikasi dengan anak, jangan lupakan eye contact dan komunikasi dua arah dengan anak karena hal ini penting bagi perkembangan si kecil.


5. Selalu Damping Anak saat Menggunakan Teknologi


Akses informasi yang demikian terbuka memudahkan anak untuk membuka konten apa saja. Meski telah diupayakan pemblokiran, selalu saja ada celah untuk bisa masuk ke area terlarang, misalnya pornografi. Karena itu, orangtua perlu mendampingi anak dalam menggunakan sarana teknologi. Selain itu, orang tua juga harus peka terhadap perkembangan teknologi agar bisa membimbing generasi digital ini untuk menggunakan teknologi secara bijak.  Lihat saja, dalam hitungan menit, mereka dapat menguasai teknologi yang makin canggih. Maka, orang tua juga harus peka terhadap perubahan teknologi ini.

6. Beri Batasan terhadap Penggunaan Gadget


Pada anak usia 2-3 tahun, screen time yang diperbolehkan maksimal 30 menit. Setelah 30 menit menatap layar segera  ganti aktivitas anak dengan melakukan aktivitas lain seperti bermain di luar ruangan atau beraktivitas fisik. Setiap anak dengan rentang usia yang berbeda memiliki screen time masing-masing. Jangan biarkan anak usia 2 atau 3 tahun berlama-lama di depan layar karena selain bisa membahayakan kesehatan, juga akan mengganggu daya konsentrasinya.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam membesarkan generasi alpha.
Semoga bermanfaat

Salam,






#day23
#ODOP
#Estrilookcommunity


EmoticonEmoticon