Friday, January 11, 2019

Waspada 5 Masalah Kehamilan ini,

Waspada 5 Masalah Kehamilan ini, Ibu Hamil Wajib Tahu



Hamil dan memiliki anak merupakan hal yang sangat dinanti oleh setiap pasangan. Ketika  hamil calon ibu akan merasakan berbagai tanda perubahan hormon dan mood dalam tubuhnya seperti mual, muntah, tidak menyukai aroma tertentu, cepat lelah dan gejala ringan kehamilan  lainnya. Selain gejala ringan ini ada beberapa masalah kehamilan yang harus diwaspadai.

Yuk, simak 5 Masalah Kehamilan yang harus diwaspadai 
  

1. Preeklampsia


Preeklamsia merupakan suatu komplikasi serius yang terjadi selama masa kehamilan yang  ditandai dengan tekanan darah tinggi , pembengkakan (edema), serta peningkatan protein dalam urine. Biasanya gejala preeklamsia muncul pada usia kandungan 20 minggu atau lebih. Preeklamsia terkadang bisa terjadi tanpa ada gejala apa pun  atau hanya menimbulkan gejala ringan. Tanda yang paling  utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat. 

Oleh sebab itu, selama masa kehamilan tekanan darah harus dimonitor secara rutin. Pemerikasaan tekanan darah menjadi bagian penting dari perawatan prenatal. Jika tekanan darah wanita hamil mencapai 140/90 mm Hg atau lebih, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan.

Ibu hamil yang didiagnosis mengalami preeklamsia mungkin juga mengeluhkan tanda klinis dan gejala umum lainnya seperti penglihatan kabur, sakit kepala, dan berkurangnya volume urine. Preeklamsia bisa membahayakan organ tubuh bahkan bisa mengancam nyawa ibu dan janin. Hal penting yang harus dilakukan selama masa kehamilan adalah konsultasi rutin dengan dokter kandungan.. Jangan ragu untuk menghubungi dokter  jika kamu merasakan gejala-gejala yang tidak wajar selama masa kehamilan ya. 

2. Air Ketuban yang Sedikit


Air ketuban memmiliki peran penting selama bayi dalam kandungan karena air ketuban melindungi janin dari guncangan, mencegah infeksi serta membantu menjaga suhu di dalam rahim. Cairan ketuban memungkinkan bayi bergerak bebas dan membantu perkembangan sistem pencernaan serta pernapasannya.

Oligohidramnion merupakan keadaan ketika  air ketuban dalam rahim sedikit. Oligohidramnion  ini lebih berisiko terjadi pada wanita yang mengalami preeklamsia, tekanan darah tinggi, diabetes, lupus, ataupun saat kehamilan sudah melewati  tanggal perkiraan persalinan. Namun, yang lebih berisiko mengalami air ketuban kurang adalah ibu hamil yang memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau ibu yang mengandung bayi kembar. 

Pergerakan bayi yang lebih sedikit dari biasanya bisa merupakan salah satu tanda air ketuban sedikit. pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk memastikan volume air ketuban. 

3. Diabetes Gestasional


Setelah lepas dari morning sickness biasanya nafsu makan kembali seperti semula bahkan ada ibu hamil yang setelah lepas dari fase morning sickness, nafsu makannya menjadi tak terkontrol, sering mengonsumsi makanan dan minuman manis serta aktivitas fisik yang kurang akan meningkatkan risiko ibu hamil menderita diabetes gestasional. Jaga kadar gula darah agar tetap di batas normal dengan rutin berolahraga serta  pola makan sehat ya. 

Diabetes gestasional merupakan diabetes yang hanya terjadi ketika kehamilan. Diabetes gestasional terjadi ketika produksi hormon  insulin tidak mencukupi untuk mengontrol kadar glukosa pada masa kehamilan. Kadar glukosa yang tinggi dalam darah ini dapat membahayakan ibu dan anak, namun risiko tersebut dapat ditekan jika ditangani dengan cepat dan tepat.

Tidak semua ibu hamil bisa mengenali gejala penyakit ini, namun gejala tersebut dapat dirasakan saat gula darah tinggi (hiperglikemia), seperti sering haus, sering buang air kecil, mulut terasa kering serta menurunnya penglihatan. Kendati begitu, tidak semua gejala ini mengindikasikan ibu hamil menderita diabetes gestasional, lho. Konsultasikan dengan dokter ya.

4. Kehamilan Ektopik


Kehamilan ektopik merupakan kondisi ketika pembuahan sel telur terjadi di luar rahim atau yang biasa dikenal dengan kehamilan diluar kandungan. Penyebab  kehamilan ektopik yang sering terjadi adalah kerusakan tuba falopi karena proses peradangan atau inflamasi. Kerusakan di saluran ini akan menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk masuk ke rahim sehingga sel telur menempel dalam tuba falopi.

Selain  itu, kadar hormon yang tidak seimbang terkadang bisa berperan sebagai pemicu kehamilan ektopik.


5. Plasenta Previa

Plasenta previa atau yang biasa disebut plasenta letak rendah merupakan kondisi ketika mulut rahim tertutup plasenta. Plasenta atau ari-ari akan menempel pada dinding rahim, terhubung dengan bayi melalui tali pusar. Plasenta previa termasuk kondisi yang jarang terjadi, namun tetap harus diwaspadai karena dapat mengancam  nyawa.

Gejala utama plasenta previa adalah perdarahan tanpa disertai rasa sakit. Biasanya terjadi pada trimester ke 3. Tindak penanganan sederhana untuk plasenta previa adalah membatasi rutinitas ibu hamil agar tidak kelelahan. Jika mengalami perdarahan pada trimester kedua atau ketiga, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter. 

Itulah beberapa gejala yang harus diwaspadai selama masa kehamilan. Cek kesehatan ibu dan janin secara berkala dan konsultasi dengan dokter ahli adalah hal terbaik yang bisa diupayakan agar gangguan kehamilan dapat terdeteksi sejak dini. 

Selamat menjalani kehamilan dengan sehat dan selamat menanti kehadiran malaikat kecil di tengah keluarga, wahai para ibu hamil.

Postingan ini diikutsertakan dalam ODOP Estrilook COmmunity
#day8



EmoticonEmoticon