Thursday, February 28, 2019

Amalan yang Dianjurkan Nabi dalam Menyambut Kelahiran Buah Hati


 



Rahmaweni.com --- Kehadiran buah hati dalam pernikahan merupakan suatu anugerah dari Allah yang tak ternilai harganya. Betapa banyak pasangan suami istri yang harus menunggu kehadiran buah hati dalam perjalanan kehidupan pernikahan mereka. Bahkan, tak sedikit yang harus berkonsultasi dari satu dokter ke dokter lainnya.

Anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, dirawat, dan dididik dengan sebaik-baiknya agar kelak di akhirat, ia menjadi pribadi yang membanggakan kedua orang tuanya.

Sebagai bentuk rasa syukur akan kehadiran buah hati yang sudah lama dinanti serta dalam rangka menjalankan sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada beberapa amalan penting yang harus kita lakukan ketika buah hati yang dinanti kehadirannya sudah hadir ke dunia ini.

Apa saja amalan yang disunnahkan nabi Muhammad dan ternyata juga memiliki banyak keutamaan tersebut? Yuk, simak uraian dibawah ini!

1.Mendengarkan Adzan ke Telinga Bayi


Disaat anak baru lahir hal pertama yang harus dilaakukan oleh orang tua adalah mengumandangkan adzan di telinga bayi. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu rafi’ bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan diwaktu dilahirkan oleh Sitti Fatimah. (HR. Abu Daud & Turmudzi dan dishahihkan oleh kedua-duanya).

Pada hadits lain disebutkan juga bahwa Nabi bersabda :

 “Barang siapa yang lahir anaknya kemudian dia adzan pada telinga sebelah kanan si bayi dan iqamah di telinga kirinya, maka bayi itu akan terhindar dari gangguan jin”

Mengumandangkan adzan kepada bayi yang baru lahir juga bertujuan untuk mengenalkan ia dengan kalimat tauhid.

2. Men tahnik Bayi


Ketika bayi baru lahir, setelah di azankan, maka sebaiknya si ayah atau orang tua bayi men tahnik nya. Tahnik adalah mengunyah kurma hingga lumat lalu menggosokkan atau melumurkan kurma yang sudah lumat itu ke langit-langit bayi sembari mendoakan keberkahan untuknya, seperti mengucapkan “Allahumma baarik fiih (Ya Allah, berkahilah dia)” atau boleh pula dengan doa keberkahan lainnya.

Kurma yang digunakan untuk men tahnik adalah kurma kering (tamer).  Jika tidak ada kurma kering, maka bisa diganti dengan menggunakan kurma basah yang baru dipanen (ruthob). Jika tidak ada, dapat diganti dengan sesuatu yang manis misalnya madu.

Tahnik dilakukan sebagaimana sebuah hadis

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim)

Baca Juga: 

Sedekah akan Sia-Sia Jika Melakukan Perbuatan Ini, Hati-Hatilah, Wahai Saudaraku



3. Memberi Nama yang Baik


Ketika bayi baru lahir, berilah nama pada hari lahirnya atau hari ketiga atau bisa juga di hari ketujuh.  Berilah nama yang baik karena nama adalah do’a. Memberikan nama kepada anak dengan mempertimbangkan arti atau  makna dari nama tersebut.  

Ciri nama yang baik adalah nama yang enak ketika didengar, mudah untuk  diucapkan, mengandung makna yang mulia, serta jauh dari segala makna dan sifat yang diharamkan oleh agama.

4.Mencukur Rambut Bayi


Amalan selanjutnya yang disunnahkan pada bayi baru lahir adalah  mencukur rambutnya secara merata lalu bersedekah kepada fakir miskin dengan perak atau senilainya yang beratnya sesuai dengan berat rambut bayi yang dicukur.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah.

اِحْلِقِى رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِى بِوَزْنِ شَعْرِهِ فِضَّةً عَلَى الْمَسَاكِيْنِ.

“Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambutnya kepada orang-orang miskin.” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/390, 392) dan al-Baihaqi (IX/304). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1175) dan Tuhfatul Mauduud (hal. 159-163).]

Dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib di atas terdapat pelajaran untuk bersedekah dari rambut bayi yang telah dicukur (digundul). Caranya adalah rambut bayi yang baru lahir dicukur lalu ditimbang, setelah itu orang tuanya bersedekah dengan perak sesuai dengan hasil timbangan tadi, atau boleh pula sedekah dengan uang seharga perak.

Misal berat rambut yang telah digundul adalah 1 gram, berarti sedekahnya adalah dengan 1 gram perak. Atau boleh juga dengan uang seharga 1 gram perak tadi. Misalnya harga 1 gram perak ketika itu adalah Rp. 5.650[2], berarti sedekahnya adalah dengan Rp. 5.650,-. Sedekah ini nantinya diberikan  kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Baca Juga:

3 Hal Yang Menyebabkan Wanita Masuk Neraka dan 1 Amalan Penyelamatnya



5. Aqiqah


Disunnahkan bagi kedua orang tua untuk meng’aqiqahi anaknya, Rasul  bersabda.

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dishahihkan al-Albani).


Hewan untuk aqiqah adalah kambing. Aqiqah untuk anak laki-laki dianjurkan dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing.

6. Khitan

Hukum khitan bagi laki-laki adalah wajib karena merupakan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kita diperintahkan mengikutinya. Selain itu itu khitan termasuk syi’ar yang membedakan orang muslim dengan non muslim.

Menurut ulama madzhab Syafi’i, khitan dianjurkan dilakukan pada hari ketujuh. Dan hendaknya khitan dilakukan tidak ketika anak mencapai masa akil baligh. Kecuali jika sebelumnya ia masih berstatus non muslim lalu memeluk islam, maka meskipun ia sudah dewasa atau baligh, ia tetap disyari’atkan untuk berkhitan.




EmoticonEmoticon