Wednesday, April 10, 2019

Perbedaan Orang Indonesia dan Bule dalam Berbelanja


Perbedaan Orang Indonesia dan Bule dalam Berbelanja





Rahma Weni -- Kalau saya perhatikan ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok antara orang kita (Indonesia) dengan orang luar (Bule) dalam berbelanja, khususnya dalam gaya dan sikapnya kepada penjual.

Sebagai mantan guru Bahasa Inggris yang akhirnya berubah haluan menjadi mompreneur, iya, saya tersesat menjadi mompreneur setelah punya anak karena tidak mengantongi izin dari suami untuk mengajar lagi. Sebagai istri over sholehah, yang beratnya lebih dari 55,  saya pun manut. Haha. *benerin jilbab, dulu*

Dengan pengalaman yang baru seumur jagung dalam mengelola usaha dan melayani customer, saya pun menyimpulkan beberapa perbedaan sikap dan gaya (calon) pembeli. FYI, saya membuka usaha jualan yang bergerak di bidang safety riding, helm dan segala kelengkapan berkendara yang berlokasi di Bali. Sebagai salah satu daerah destinasi wisata, dapat dikatakan bahwa lebih dari 50 persen pembeli yang datang ke toko untuk belanja adalah bule dan sisanya adalah warga lokal (Indonesia).

Apa saja perbedaan yang mencolok antara bule dan orang kita dalam belanja?

1. Tawar-Menawar



Orang kita mah paling jago buat nawar, ye kan? Belanja kalau nggak nawar itu rasanya kurang afdhol. Sebagai komunitas emak-emak yang suka menawar, saya pun sering melakukannya. Haha. Tapi, kalau nawar mah jangan kayak Afgan, sadis, gitu. Kadang malah ditawar di bawah harga modal yang kita dapat dari supplier. Mbok ya kalau nawar itu sewajarnya aja, jangan sadis.

Kalau bule ada juga sih yang doyan menawar, tapi mereka hanya minta persetujuan penjual untuk minta diskon, “Any discount for me?” Kalau bisa diturunkan harganya, paling di diskon sekian persen saja dari harga jual yang disebutkan.
  

2. Quality Check

Orang kita kalau belanja, semuanya diperiksa, diteliti sampai ke dalam-dalamnya kalau ada yang rusak, gores, bahkan luarnya pun gak boleh kena jejak jari tangan. Kalau ada yang baru, masih disimpan di dusnya, belum pernah dicobain orang, masih mulus bagian luarnya itu yang diinginkan. Kalau gores atau ada bercak, mereka batal beli. Ya, naluri juga sih sebenarnya memastikan barang yang kita beli dalam keadaan yang bagus dan OK. Orang kita memastikan semuanya, mengecek kualitas luar dan dalamnya secara teliti dan seksama. Memilih barang yang akan dibeli sama kek milih suami, harus dicek semuanya. *saya terlalu lebay*

Kalau bule yang belanja kebanyakan mereka nggak terlalu peduli dengan tampilan luarnya. Pun, kalau gores mereka nggak terlalu ambil pusing selama itu nggak mengurangi nilai safety nya. Mereka jarang sekali yang mengulik barang sampai ke dalamnya atau memeriksa detailnya. Selama mereka nyaman memakainya, memenuhi standar safety, dan harganya cocok menurut mereka, ya mereka bakalan beli.

Sebagai penjual yang amanah, saya pun akan jujur tentang kualitas barang, kalau ada yang rusak atau gores pun, saya nggak nutupin dari bule yang terkesan nggak teliti ini, supaya kita sama-sama dapat keberkahan dari hasil akad jual beli.

Baca juga:

Masya Allah, 7 Amalan Kecil ini Datangkan Pahala yang Besar


Windows 10 Lemot di PC mu? Lakukan Cara ini untuk Mempercepatnya



3. Basa-Basi


Orang kita kalau belanja, lalu nggak jadi karena berbagai hal, bisa jadi karena nggak cocok harganya atau nggak ada stoknya, biasanya langsung melipir pergi. Kemaren ini ada 2 orang remaja ABG yang datang belanja, lalu setelah pilih-pilih dan nyobain lalu nanyain warna putih, karena stok warna putiih lagi kosong, jadinya mereka batal beli, ‘kan? Nah, apa yang mereka lakukan? Mereka langsung melipir tanpa bilang apa-apa pada saya. Kebayang ‘kan betapa ngenesnya saya ditinggal pergi tanpa sepatah kata pun? Haha.

Saya nggak memaksa mereka untuk membeli warna yang nggak mereka  suka sih, at least bilang terimakasih atau sorry atau apalah sebagai penutup basa-basi, jangan langsung pergi begitu aja.
   
Kalau bule yang datang belanja lalu nggak jadi, at least mereka bilang, “Thank you” sambil membungkukkan badan dan mempertemukan kedua tangannya atau mereka bilang, “I’ll think ‘bout it”, “I’ll be back” I’ll come back” atau sejenisnya, walaupun mereka nggak jadi datang keesokan harinya, tetapi mereka tetap berbasa-basi. Ya, walaupun nggak semuanya sih orang kita dan bule yang belanja kaya gini

4. Cash VS Card

Orang Indonesia kebanyakan melakukan transaksi langsung dengan uang cash. Kalau bule umumnya mereka lebih prefer pakai kartu daripada uang cash. Di sini saya sangat membutuhkan peran EDC sebagai alat yang bisa membantu kelancaran transkasi dengan bule. 

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, baik orang Indonesia atau bule. Penggunaan istilah bule dan orang kita atau orang lokal juga bukan sebuah generalisasi bahwa semua bule atau orang Indonesia bersikap demikian. Tulisan ini hanyalah sekeping cerita dan catatan pengamatan saya selama beberapa bulan ini. Boleh jadi, orang lain punya pengalaman yang berbeda dengan saya.

,

  

  


EmoticonEmoticon