Wednesday, September 25, 2019

Sejarah, Misteri dan Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Big Ben Kebanggaan Urang Awak


Sejarah, Misteri dan Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Big Ben Kebanggaan Urang Awak

 

Rahma Weni ---- Belum lengkap rasanya jika bertandang ke Padang tanpa mengunjungi Jam Gadang, Landmark kota Bukittiggi. Jam Gadang, Gadang yang dalam bahasa lokal artinya besar. Yap, bangunan jam dengan ukuran yang cukup besar menyerupai menara ini terletak di tengah taman Sabai Nan Aluih yang dianggap sebagai titik sentral atau titik 0 kota Bukittinggi. Sekilas bangunan Jam gadang ini mirip dengan Big Ben, ya. Yang menjadi ciri khas bangunan jam raksasa ini adalah bagian puncaknya yang dibuat seperti gonjong.

Sejarah Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang ini merupakan pemberian atau hadiah dari ratu Belanda kepada sekretaris controller Fort De Kock. Bangunan Jam gadang selesai dibangun pada tahun 1926 dan menelan biaya kurang lebih sebesar 3000 Gulden. Bangunan ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010 oleh BPPI dengan dukungan pemkot Bukittinggi dan juga dibantu oleh kedutaan besar Belanda yang berada di Jakarta.

Misteri Jam Gadang Bukittinggi




Angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, tetapi angka empat ditulis dengan cara yang diluar kelaziman ssstem penomoran Romawi. Biasanya angka 4 Romawi ditulis dengan IV, tetapi di jam Gadang ini angka 4 ditulis dengan IIII.

Konon, menurut cerita yang beredar di masyarakat angka IIII itu sengaja dibuat demikian untuk  mengenang 4 orang pekerja yang tewas karena kecelakaan kerja selama proyek pembangunan jam gadang dilakukan.

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi 

 Bandul jam Pernah Patah

Masih ingat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat pada tahun 2007? Gempa berkekuatan 5,8-6,4 skala richter ini terasa getarannya hingga ke Singapura dan Malaysia. Banyak bangunan rusak dan juga menelan korban jiwa akibat rangkaian gempa yang terjadi dari 6-8 Maret 2007.

Jam Gadang merupakan salah satu bangunan yang terkena dampaknya. Bandul penggerak Jam Gadang yang berada di lantai atas putus karena kuatnya goncangan gempa. Tak lama setelah itu dilaukan penggantian bandul. Jadi bandul yang kita lihat sekarang ini adalah versi baru.

Dibuat Tanpa Rangka Besi dan Semen

Konstruksi bangunan ini dibuat oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Dengan luas alas 13×4 meter dan tinggi 26 meter, percaya nggak kalau menara ini dibuat tanpa rangka besi dan semen? Konstruksinya tidak menggunakan rangka logam dan semen, melainkan campuran batu kapur, putih telur dan pasir, lho. Jam Gadang ini menjadi salah satu bukti kehebatan teknik pembangunan manusia zaman dulu.

Atapnya Sudah Berubah 3 kali

Atap yang menyerupai gonjong di puncak menara yang sekarang kita temui ini bukanlah bentuk asli dari awal pembangunannya, lho. Awalnya atap jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa, dilengkapi dengan patung ayam jantan di bagian atasnya. Pada masa pendudukan Jepang atapnya diubah mengikuti gaya arsitektur Jepang. Akhirnya pada saat kemerdekaan  atapnya kembali diubah ke atap gonjong yang merupakan ciri khas bangunan asli Minangkabau.

Memiliki 4 Tingkat


Bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam, tingkat ketiga tempat dari mesin jam dan tingkat keempat puncak menara tempat lonceng jam. Di lonceng inilah tertera nama dari produsen mesin jam ini. Mesin jam yang dipakai di sini langka, lho, karena pabriknya hanya memproduksi 2 unit saja. Satu di Jam Gadang Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat dan satu lagi di Big Ben London, 


Tanpa Sumber Energi Penggerak Apapun

Sistem yang bekerja di dalam mesinnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun. Wiih, keren ya?

Lorong Bawah Tanah Menuju Ngarai Sianok dan Benteng Fort De Kock

Lorong bawah tanah ini dibangun pada masa penjajahan Jepang sehingga lorong ini sering disebut sebagai Lobang Jepang. Sebuah situs sejarah yang menjadi saksi kekejaman Romusha pada masa penjajahan Jepang. Mempekerjakan bangsa Indonesia semena-mena, kerja tanpa istirahat, tanpa makan dan tanpa gaji sehingga banyak pekerja yang tewas.

Lobang Jepang ini jjika ditelusuri akan membawa kita sampai di Ngarai Sianok dan benteng Fort De Kock. Jepang sengaja membuat lobang ini sebagai kota bawah tanah untuk melindungi diri dari serangan musuh.

Keindahan dan keunikan Jam Gadang memang mempunyai pesona tersendiri. Oh iya, jika kamu berkunjung ke Bukittinggi, jangan lupa juga cicipin kuliner khas kotanya, ada Itiak Lado Mudo, Nasi Kapau, Teh Talua, Sanjai dan masih banyak lagi. Bagaimana, sudah menyiapkan rencana liburan ke Sumatera Barat untuk mengunjungi Jam Gadang, Big Ben kebanggaan orang Padang ini? 



EmoticonEmoticon