Tuesday, October 1, 2019

Pengalaman Melahirkan Secara Normal

Pengalaman Melahirkan Secara Normal





Rahma Weni --- Saya adalah tipe orang yang sangat takut berhadapan dengan dokter, rumah sakit dan segala jenisnya.  Apalagi sebagai perempuan, ketakutan terbesar saya adalah saat melahirkan. Dalam benak saya terbayang rasa sakit yang amat sangat menyakitkan. Ketakutan ini disebabkan apa? Yap, karena sinetron-sinetron yang pernah saya tonton. Digambarkan di sinetron itu betapa sakitnya melahirkan, sampai-sampai pemeran wanitanya berteriak histeris menahan sakit. Iya, dulu waktu kecil saya suka nonton sinetron bahkan sering numpang nonton tv ke rumah sebelah agar bisa menyaksikan kelanjutan sinetron yang kemaren, tapi sekarang saya sudah tobat, nggak pernah lagi nonton sinetron. Gimana mau nonton, tv aja nggak punya. Sejak punya anak kami memutuskan untuk tidak memiliki televisi di rumah. Kami memang orang tua anti mainstream. Haha

Selaain karena sinetron yang menayangkan proses persalinan yang menyakitkan  ditambah lagi dengan cerita dari mulut ke mulut tentang proses melahirkan makin membbuat nyali saya menciut dan takut melahirkan.  Hingga sampai saat saya menikah pun ketakutan itu masih setia tersimpan di pikiran. 2 tahun setelah menikah saya positif hamil. Bahagianya luar biasa saat itu tapi di sisi lain ada rasa ketakutan yang menari-nari.

Alhamdulillah, kehamilan berjalan normal dan lancer tanpa masalah-masalah yang serius. Keluhan saya semasa hamil berupa pusing, lemas, dan mual, biasa yang terjadi pada ibu hamil. Mendekati hari prediksi kelahiran yang dijadwalkan tanggal 5 Mei 2015, saya masih belum ada tanda-tanda mau melahirkan. Orang tua saya mengatakan bahwa kelahiran bayi itu bisa maju dari HPL, kadang juga bisa mundur dari perkiraan. Biasanya kalau anak yang dikandung laki-laki maka ia akan lahir lebih awal dari HPl, namun jika bayi yang dikandung perempuan, maka kelahirannya akan mundur dari HPL yang sudah dihitung”, begitu kata orang tua saya. Mendengar statement orang tua, saya jadi nggak terlalu mengkhawatirkan HPL yang sudah lewat beberapa hari. Banyakin aktivitas fisik aja, seperti jongkok berdiri, pesan orang tua. Saya manut aja, nggak tahu apa tujuannya saat itu. haha

Sebelum Melahirkan

Tanggal 9, saya merasa ada sesuatu yang tak biasa,ada  air seperti air seni yang tiba-tiba keluar tanpa disadari.Besoknnya  saya periksa ke bidan, di cek pakai kertas lakmus. katanya yang keluar bukan air ketuban. Mungkin karena BBJ yang besar sehingga ruang geraknya terbatas dan menindih kandung kemih”, begitu tutur bidannya. Kemudian dilakukan pemeriksan dalam, baru pembukaan 1. Sementara HPL sudah lewat. Saya disuruh pulang dengan  diresepkan obat. Esoknya, kontraksi sudah mulai terasa dari siang. Perut mulas dengan intensitas yang ringan dan jedda waktu yang lumayan lama.Sementara air masih keluar merembes. Semakin sore semakin sering terasa kontraksi sampai malam hari kontraksi semakin hebat. Bahkan saya sampai berkeringat dingin menahan sakit. Malamnya, jam 8 setelah isya, keluar darah dan air merembes lalu saya langsung ke Puskesmas.
Sampai di puskesmas masuk ke ruang bersalin dan diperiksa lagi,  pembukaan 2 dengan diagnosa ketuban rembes. Saya makin takut dan cemas. Takut akan seramnya proses persalinan, takut dengan diagnose bidannya. Saya disuruh istirahat di tempat tidur sambil diobservasi bidan. “Jika tidak ada kemajuan pembukaan sampai jam 12 malam ini, maka pasien akan kami rujuk ke Rumah Sakit karena ketuban sudah rembes dan HPL sudah lewat”, begitu penjelasan bidan. Perasaan saya semakin tak menentu, terbayang dokter, rumah sakit, ruang operasi di pikiran saya. Hanya 1 hal yang bisa dilakukan saat itu, berbaring sambil istighfar. 

Secara berkala pembukaaan dicek, Alhamdulillah ada kemajuan dari yang awalnya 2 meningkat ke 4, lalu ke 7. Itu artinya saya nggak  jadi dirujuk ke RS. Kadang sakitnya datang, kadang pergi. Saat datang, rasanya sampai nggak bisa nafas. Jam 2.30 sdinihari, mulas semakin kuat dan sering, dicek pembukaan Alhamadulillah sudah lengkap.Semua peralatan tempur disiapkan bidan, instruksi pun dimulai. saat mengejan jangan merem, lihat ke perut. Ketika mengejan pertama, bayi keluar kepalanya saja. mengejan kedua keluar dengan sempurna. "sudaaah", kata bidannya.  Akhirnya legaaaa. Tangisan bayi membuat saya mengucap syukur. tepat jam 3 dinihari, bayi saya lahir ke dunia dengan berat 3 kg dan panjang 51 cm.  Dengan kondisi mata minus 3, saya bisa melihat bayinya dibersihkan dengan samar-samar.  

Setelah dibersihkan, dilakukan IMD. Masya Allah begini rasanya. Setelah bayi dibersihkan, giliran membersihkan plasenta, perut diuyel-uyel rasanya ngiluuu. 

Setelah Melahirkan

Tak lama setelah IMD, drama masih berlanjut. Drama yang tak kalah sakit dari yang sebelumnya, dijahit. Saya dijahit karena tadi bidan melakukan episiotomi. Rasanya? Wow banget. Dijahit tanpa dibius. Saya merasakan setiap tusukan-tusukan jarum dan benang yang ditarik-tarik dalam keadaan sadar.

2 hari di Puskesmas, saya diizinkan pulang karena kondisi saya dan  bayi sehat. Alhamdulillah    


EmoticonEmoticon